logo-kyaijawab

penulis : Kyai || dibaca : 4316 Kali

Kebiasaan para muadzin di beberapa daerah untuk mengumandangkan (melantunkan) puji-pujian atau shalawat setiap sebelum atau setelah adzan atau pada waktu-waktu tertentu merupakan salah satu jenis bid‘ah hasanah yang diridhoi.  Bid‘ah yang tidak pantas untuk ditolak, karena Al-Quran dan Hadis telah memerintahkan untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw tanpa batasan waktu, keadaan, dan tempat.

            Benar, memang ada beberapa waktu yang dikhususkan untuk bershalawat.  Pengkhususan ini untuk menambah pahala.  Namun, perintah dan keutamaan membaca shalawat berlaku secara umum untuk setiap waktu dan keadaan, baik diucapkan dengan suara pelan maupun keras, sendiri maupun bersama-sama.  Pembacaan shalawat yang dilakukan oleh muadzin ini tidak boleh ditolak.  Jika ada yang menolak, maka tidak perlu kita tanggapi, kecuali jika ada dalil yang menguatkan penolakan itu.  Namun, pada kenyataannya, dalil tersebut tidak pernah ada.  Jadi, gugurlah ucapan orang yang menolaknya.

            Membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah saw selepas adzan memang dianjurkan, sebagaimana disebutkan dalam Hadis-hadis sahih.

            Jika muadzin membacanya dengan suara keras, maka tidak lain adalah untuk mengingatkan umat Nabi saw, baik yang sadar maupun yang lalai, dan untuk meningkatkan amal saleh.

            Tak diragukan lagi bahwa penyebutan nama dan pemujian kepada Rasulullah saw; periwayatan kehidupan dan keutamaan-keutamaan beliau saw yang diiringi dengan pembacaan shalawat dan salam oleh muadzin adalah termasuk pendekatan diri dan ketaatan kepada Allah.

            Shalawat merupakan salah satu penguat iman, penambah cinta dan pengagungan kepada Rasulullah saw, baik bagi muadzin maupun kaum Mukminin yang mendengarkan.  Di samping itu, shalawat membuat marah dan menghinakan orang-orang munafik dan kafir yang membenci Rasulullah saw.

            Alasan apakah yang dimiliki orang itu sampai ia mengingkari amal yang mulia ini: amal yang menghimpun berbagai faedah dan manfaat tersebut di atas serta manfaat-manfaat lain yang dijanjikan Allah SWT kepada orang yang bershalawat.  Sebab, tiada seorang pun dari umat beliau yang bershalawat sekali saja, kecuali AllohAzza wa Jalla akan bershalawat kepadanya 10 kali.

            Jika seseorang menolak pembacaan puji-pujian atau shalawat yang dilakukan setiap sebelum atau setelah adzan karena cara pembacaan dengan suara keras dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau sedang beribadah, maka hal ini perlu dipertimbangkan.  (lihat hukum dzikir dengan suara keras)  (‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad, Nafaisul ‘Uluwiyyah fil Masailis Shufiyyah, cet. I, Darul Hawi, 1993/1414H, hal.94-100)

Jawaban Kyai terkait dengan pertanyaan Anda ::

Tinggalkan Komentar

Form bertanda * harus diisi.
Email Anda tidak akan ditampilkan.

Silahkan anda tuliskan huruf yang ada di gambar.
Tulisan tidak memperhatikan huruf kapital
dan semua tulisan adalah huruf.